Klausa adverbial adalah klausa yang berfungsi sebagai kata keterangan. Dengan kata lain, mengandung predikat subjek (eksplisit atau tersirat) dan, dan memodifikasi kata kerja. Kata keterangan tersebut memberitahu kamu bagaimana sesuatu itu dilakukan.
* I saw Joe when I went to the store. (explicit subject I)
* He sat quietly in order to appear polite. (implied subject he)
Menurut Sidney Greenbaum dan Randolph Quirk, klausa adverbial berfungsi terutama sebagai tambahan berarti atau disjuncts. Dalam fungsi-fungsi mereka sama seperti frasa adverbial, tetapi karena potensi mereka untuk ketegasan lebih besar, mereka lebih sering seperti frasa preposisional (Greenbaum dan Quirk, 1990):
* We left after the speeches ended. (Is it an adverbial clause, adverbial phrase, or prepositional phrase?)
* We left after the end of the speeches.(Is it an adverbial clause, adverbial phrase, or prepositional phrase?)
* I like to fly kites for fun.
Kata keterangan juga menerangkan kata sifat. Dalam kasus ini, kata keterangan ditempatkan di depan kata sifat. Misal : She is extremely happy. They are absolutely sure.
Kata keterangan frekuensi atau Adverbs Of Frequency (always, never, sometimes, often, dll) biasanya muncul setelah kata kerja utamanya. Misalnya :
o He is often late for class
o Do you always eat in a restaurant
o They don’t usually travel on Fridays
Adverbs Of Frequency seringkali ditempatkan di awal kalimat. Misal : Sometimes, he likes to go to museums
Adverbs Of Frequency mengikuti-muncul setelah-kata kerja “to be”. Misalnya : He is sometimes late for work.
Kontras klausa adverbial dengan frasa adverbial, yang tidak mengandung klausa.
Kinds Of Adverbial Clauses
kind of clause
common conjunctions
function
example
time clauses
when, before, after, since, while, as, as long as, until,till, etc. (conjunctions that answer the question "when?"); hardly, scarcely, no sooner, etc.[1]
These clauses are used to say when something happens by referring to a period of time or to another event.
Her father died when she was young.
conditional clauses
if, unless
These clauses are used to talk about a possible situation and its consequences.
If they lose weight during an illness, they soon regain it afterwards.
purpose clauses
in order to, so that, in order that
These clauses are used to indicate the purpose of an action.
They had to take some of his land so that they could extend the churchyard.
reason clauses
because, since, as, given
These clauses are used to indicate the reason for something.
I couldn't feel anger against him because I liked him too much.
result clauses
so..that
These clauses are used to indicate the result of something.
My suitcase had become so damaged on the journey home that the lid would not stay closed.
concessive clauses
although, though, while
These clauses are used to make two statements, one of which contrasts with the other or makes it seem surprising.
I used to read a lot although I don't get much time for books now
place clauses
where, wherever, anywhere, everywhere, etc. (conjunctions that answer the question "where?")
These clauses are used to talk about the location or position of something.
He said he was happy where he was.
clauses of manner
as, like, the way
These clauses are used to talk about someone's behaviour or the way something is done.
I was never allowed to do things the way I wanted to do them.
clauses of exclamation
what a(an), how, such, so
Exclamations are used to express anger, fear, shock, surprise etc. They always take an exclamation mark (!).
What horrible news! How fast she types! You lucky man!
References
1. ^ For example "Hardly had I reached the station when the train started to leave the platform." [1]
Conclusion
“Adverb Clauses adalah kata keterangan yang menjelaskan kata sifat. Kata keterangan yang memberitahu bagaimana sesuatu itu ndapat dilakukan.
Bibliogaphy
- Wahyudi, Ribut. Jalan Pintas Menguasai English Grammar. Yogyakarta : Book Marks, 2007
- WWW.WIKIPEDIA.COM
Kamis, 24 Maret 2011
Rabu, 23 Maret 2011
Mimpi Sang Sahabat
PRIIIT… PRIIIT… PRIIIT…
Peluit panjang tanda berakhirnya partai final turnamen sepakbola pelajar. Skor akhir 4-2, keunggulan klub Siliwangi Fc atas rival terberat mereka, Dipokar Fc.
Seluruh pemain cadangan dan official klub Siliwangi berhamburan ke dalam lapangan. Selebrasi yang di sajikan layaknya memenangkan piala dunia.
Keadaan berbalik untuk kubu Dipokar Fc. Ilan, salah satu punggawa mereka berjalan terunduk menekuri rumput lapangan yang terasa hijau dipijaknya.
Ia terhenti. Sebuah pelukan hangat dihadiahkan temen seperjuangan mereka, Lingga. “Setiap detik yang telah berlalu, takkan pernah menunggu kita tuh bisa pahami hidup dan sesali semua yang telah lalu.” Ucapnya di samping telinga Ilan.
Ilan sendiri hanya bisa diam. Mencoba mencerna setiap perkataan Lingga. Ia menjauhkan tubuhnya dari dekapan Lingga. Matanya seolah masuk ke dalam tatapan hangat seseorang di depannya. “Itu bukannya salah satu lirik lagunya J-Rocks?” Todong Ilan.
“He-eh.” Lingga Cuma nyengir.
Setiap orang pasti sangat menerima sebuah kemenangan. Tapi, apa semua prang bisa menerima sebuah kekalahan? Untuk seorang Ilan, bisa. Karena ia tampak tegar seiring tetesan peluh yang mengalir di tubuhnya.
“Lo masih inget kan? Kita punya mimpi masuk timnas?”
**
Itu hanya sepenggal cerita pahit namun sarat akan makna sebuah perjalanan di sepakbola bagi Ilan dan Lingga satu tahun lalu. Dan kini Lingga di sini. Sendiri. Hanya bersama sebuah makam yang masih basah dan terpahat nama Ilan Mahendra di nisannya.
Seiring kedatangan dua sahabatnya yang lain, Danu dan Bagas. Lingga bertekad untuk melanjutkan apa yang di cita-citakannya bersama Ilan.
Lingga menatap dua orang di hadapannya. “Kita harus lolos ke senayan dan berseragam timnas.” Ujar Lingga penuh semangat.
Danu dan Bagas meresponnya dengan anggukan pasti.
**
Turnamen sepakbola pelajar tahun ini akan di pantau oleh Badan Tim Nasional. Itu semua yang membuat semangat ketiga sahabat ini semakin membara. Dan sore ini latihan rutin kubu Dipokar Fc. Seluruh anggota telah berkumpul di lapangan dan siap menerima materi.
Seorang cewek bernama Nalula menyeruak di tengah-tengah mereka. “Latihan sore ini adalah tendangan menyusur tanah. Permainan seperti biasa, terdiri dari dua tim. Tapi di tiap garis gawang akan di letakkan empat buah cone. Tim yang berhasil menjatuhkan cone terbanyak dianggap menang.” Kurang lebih seperti itu instruksi yang di berikan Nalula.
Semua menurut, karena Nalula adalah asisten pelatih Dipokar Fc yang peranannya tak bisa di remehkan.
**
Keesokan harinya. Turnamen digelar di stadion Lebak Bulus Jakarta Selatan. Peserta terdiri dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan sampai Irian Jaya.
Pertandingan perdana pun langsung di gelar sore harinya, dan mempertemukan klub Gelora FC Surabaya kontra Jakabaring FC Palembang. Partai lain mempertemukan Teladan FC Medan melawan Jatidiri FC Semarang. Serta tak ketinggalan Siliwangi Fc Bandung yang siap mengancam tim asal Malang, Kanjuruhan FC. Keesokan harinya. Untuk Dipokar Fc Jakarta sendiri akan bentrok dengan Mandala FC asal Jayapura. Tapi untuk saat ini, mereka hanya bisa menikmati pertandingan dari pinggir lapangan/ tribun penonton.
Di sela-sela menyaksikan aksi para calon lawan mereka, Lingga, Danu dan Bagas terlihat sedikit berbincang dengan Nalula, sang asisten pelatih.
“Kalo banyak pemain berkumpul di tengah lapangan, apa yang mungkin bisa kita lakukan?” Sedikit pertanyaan mengalir dari bibir Danu.
Nalula mungkin masih muda, tapi ia punya jawaban pasti untuk Danu yang sebenarnya lebih pantas di sebut temannya dari pada sebagai seorang anak didik. “Bisa aja dengan umpan lambung. Tapi seringnya sedikit beresiko. Tapi ada alternative lain. Manfaatkan lebar lapangan. Coba dengan menyusur dari sayap. Karna kondisi seperti ini hampir kerap kali terjadi. Terutama Bagas, posisi kamu di kanan. Tolong diperhatikan situasi seperti itu.”
Bagas hanya mengangguk, mengisyaratkan bahwa ia mengerti.
Sementara pertandingan berakhir 2-1. Keunggulan untuk Jakabaring FC Palembang. Di lain tempat, Jatidiri FC Semarang berhasil melumat Teladan FC Medan dengan skor 3-1.
Di hari berikutnya, giliran Lingga cs harus menghadapi klub asal Papua. Barisan pertahanan Dipokar di buat pontang panting oleh dua striker Mandala FC, Devon dan Arga. Meski fisik Danu dkk terlihat sedikit amburadul, tapi mereka dapat membuktikan diri untuk layak di perhitungkan dengan gol tunggal hasil tendangan bebas Bagas di injury time. Mereka akhirnya lolos ke partai final setelah sebelumnya menggasak Jatidiri FC 2-0 dan menghentikan langkah Kanjuruhan FC dengan skor 2-3.
**
Malam ini Lingga, Danu dan Bagas bisa sedikit bernapas lega, meski esok pagi beban berat menanti mereka. Malam ini mereka sepakat untuk mengungsi di rumah Danu. Lingga sendiri udah tepar di atas kasur. Sementara Bagas masih ngejogrok di depan laptop, main PES. Danu datang dengan membawa nampan berisi tiga gelas susu hangat.
“Woi.. Ga?! Kalo mau tidur, ganti baju dulu napa?” Danu sewot karena temannya tidur dengan seragam latihan tadi yang masih menempel di badannya.
“Gua gak bawa baju ganti.” Celetuk Lingga sekenanya.
Bagas hanya bisa mengangkat bahu begitu sadar Danu menatapnya. Selang beberapa saat, Lingga nongol di tengah tengah mereka. Bajunya pun telah berganti. Seenaknya nyeruput segelas susu, langsung kembali ke atas kasur dengan tanpa ada rasa berdosa.
“Eh, kayaknya tuh baju gua kenal?” Kata Danu heran.
“Gua pinjem baju lo.” Sahut Lingga tanpa merubah sedikitpun posisi berbaringnya.
“Saba aja deh.” Ucap Bagas.
**
Jam tujuh pagi. Danu terbangun. “Wooiii…!! Bangun…!!” Danu mengguncang tubuh kedua temannya. “Udah jam tujuh, pertandingan 1 jam lagi.” Suara Danu terdengar di telinga Lingga dan Bagas. Begitu sadar. Mereka berebut ke kamar mandi.
Sementara di lapangan, sesuai jadwal pertandingan mulai sekitar 10 menit lagi. Tapi LIngga, Bagas dan Danu belum tiba. “Kemana sih tuh anak tiga?” Nalula pun dibuat resah. Meski akhirnya mereka tiba dengan napas yang masih kejar-kejaran. Soalnya ada sedikit insiden, mobil Danu yang mereka tumpangi ngambek di tengah perjalanan. Endingnya mereka harus berlari mengejar waktu menuju stadion.
“Cepat kalian pemanasan. Lari tiga putaran.” Perintah Nalula.
“Hah..!” Mereka hanya tercengang.
**
Pertandingan dimulai. Dan lagi-lagi Dipokar harus bentrok dengan Siliwangi FC yang menang atas Patriot FC Bekasi 3-0 dan melibas Benteng FC Tangerang 3-2. Meski tahun ini tanpa kehadiran sang kapten, Ilan.
“Mundur! Jangan terlalu mengandalkan jebakan offside. Bagas! Oper ke Lingga. Danu! Jaga Diaz.” Terdengan teriakan Nalula dari pinggir lapangan.
90 menit jalannya pertandingan telah berlalu. Dan gelar juarapun harus kembali ke tangan Siliwangi FC dengan skor akhir 1-0. Namun yang paling di tunggu-tunggu adalah pengumuman perekrutan timnas.
Para punggawa Dipokar FC menunggu kabar tersebut dari Nalula di ruang ganti. Nalula datang dengan membawa selembar kertas. Daftar pemain perekrutan timnas. Tidak ada satu pun nama dari Dipokar FC. Bisa di pastikan yang paling kecewa adalah Danu, Bagas dan terutama Lingga.
“Kalian gak boleh percaya dulu sama kertas itu. Karena hasil sebenarnya terpajang di luar.” Ucap Nalula dengan senyum penuh arti.
Lingga, Danu, Bagas. Seketika mereka berlari berhamburan keluar lapangan. Ternyata ada empat nama dari Dipokar. Dan tiga di antaranya adalah mereka.
Akhirnya mereka berhasil mewujudkan impian Ilan, lolos timnas. Meski tanpa gelar juara dan kehadiran Ilan di antara mereka.
Peluit panjang tanda berakhirnya partai final turnamen sepakbola pelajar. Skor akhir 4-2, keunggulan klub Siliwangi Fc atas rival terberat mereka, Dipokar Fc.
Seluruh pemain cadangan dan official klub Siliwangi berhamburan ke dalam lapangan. Selebrasi yang di sajikan layaknya memenangkan piala dunia.
Keadaan berbalik untuk kubu Dipokar Fc. Ilan, salah satu punggawa mereka berjalan terunduk menekuri rumput lapangan yang terasa hijau dipijaknya.
Ia terhenti. Sebuah pelukan hangat dihadiahkan temen seperjuangan mereka, Lingga. “Setiap detik yang telah berlalu, takkan pernah menunggu kita tuh bisa pahami hidup dan sesali semua yang telah lalu.” Ucapnya di samping telinga Ilan.
Ilan sendiri hanya bisa diam. Mencoba mencerna setiap perkataan Lingga. Ia menjauhkan tubuhnya dari dekapan Lingga. Matanya seolah masuk ke dalam tatapan hangat seseorang di depannya. “Itu bukannya salah satu lirik lagunya J-Rocks?” Todong Ilan.
“He-eh.” Lingga Cuma nyengir.
Setiap orang pasti sangat menerima sebuah kemenangan. Tapi, apa semua prang bisa menerima sebuah kekalahan? Untuk seorang Ilan, bisa. Karena ia tampak tegar seiring tetesan peluh yang mengalir di tubuhnya.
“Lo masih inget kan? Kita punya mimpi masuk timnas?”
**
Itu hanya sepenggal cerita pahit namun sarat akan makna sebuah perjalanan di sepakbola bagi Ilan dan Lingga satu tahun lalu. Dan kini Lingga di sini. Sendiri. Hanya bersama sebuah makam yang masih basah dan terpahat nama Ilan Mahendra di nisannya.
Seiring kedatangan dua sahabatnya yang lain, Danu dan Bagas. Lingga bertekad untuk melanjutkan apa yang di cita-citakannya bersama Ilan.
Lingga menatap dua orang di hadapannya. “Kita harus lolos ke senayan dan berseragam timnas.” Ujar Lingga penuh semangat.
Danu dan Bagas meresponnya dengan anggukan pasti.
**
Turnamen sepakbola pelajar tahun ini akan di pantau oleh Badan Tim Nasional. Itu semua yang membuat semangat ketiga sahabat ini semakin membara. Dan sore ini latihan rutin kubu Dipokar Fc. Seluruh anggota telah berkumpul di lapangan dan siap menerima materi.
Seorang cewek bernama Nalula menyeruak di tengah-tengah mereka. “Latihan sore ini adalah tendangan menyusur tanah. Permainan seperti biasa, terdiri dari dua tim. Tapi di tiap garis gawang akan di letakkan empat buah cone. Tim yang berhasil menjatuhkan cone terbanyak dianggap menang.” Kurang lebih seperti itu instruksi yang di berikan Nalula.
Semua menurut, karena Nalula adalah asisten pelatih Dipokar Fc yang peranannya tak bisa di remehkan.
**
Keesokan harinya. Turnamen digelar di stadion Lebak Bulus Jakarta Selatan. Peserta terdiri dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan sampai Irian Jaya.
Pertandingan perdana pun langsung di gelar sore harinya, dan mempertemukan klub Gelora FC Surabaya kontra Jakabaring FC Palembang. Partai lain mempertemukan Teladan FC Medan melawan Jatidiri FC Semarang. Serta tak ketinggalan Siliwangi Fc Bandung yang siap mengancam tim asal Malang, Kanjuruhan FC. Keesokan harinya. Untuk Dipokar Fc Jakarta sendiri akan bentrok dengan Mandala FC asal Jayapura. Tapi untuk saat ini, mereka hanya bisa menikmati pertandingan dari pinggir lapangan/ tribun penonton.
Di sela-sela menyaksikan aksi para calon lawan mereka, Lingga, Danu dan Bagas terlihat sedikit berbincang dengan Nalula, sang asisten pelatih.
“Kalo banyak pemain berkumpul di tengah lapangan, apa yang mungkin bisa kita lakukan?” Sedikit pertanyaan mengalir dari bibir Danu.
Nalula mungkin masih muda, tapi ia punya jawaban pasti untuk Danu yang sebenarnya lebih pantas di sebut temannya dari pada sebagai seorang anak didik. “Bisa aja dengan umpan lambung. Tapi seringnya sedikit beresiko. Tapi ada alternative lain. Manfaatkan lebar lapangan. Coba dengan menyusur dari sayap. Karna kondisi seperti ini hampir kerap kali terjadi. Terutama Bagas, posisi kamu di kanan. Tolong diperhatikan situasi seperti itu.”
Bagas hanya mengangguk, mengisyaratkan bahwa ia mengerti.
Sementara pertandingan berakhir 2-1. Keunggulan untuk Jakabaring FC Palembang. Di lain tempat, Jatidiri FC Semarang berhasil melumat Teladan FC Medan dengan skor 3-1.
Di hari berikutnya, giliran Lingga cs harus menghadapi klub asal Papua. Barisan pertahanan Dipokar di buat pontang panting oleh dua striker Mandala FC, Devon dan Arga. Meski fisik Danu dkk terlihat sedikit amburadul, tapi mereka dapat membuktikan diri untuk layak di perhitungkan dengan gol tunggal hasil tendangan bebas Bagas di injury time. Mereka akhirnya lolos ke partai final setelah sebelumnya menggasak Jatidiri FC 2-0 dan menghentikan langkah Kanjuruhan FC dengan skor 2-3.
**
Malam ini Lingga, Danu dan Bagas bisa sedikit bernapas lega, meski esok pagi beban berat menanti mereka. Malam ini mereka sepakat untuk mengungsi di rumah Danu. Lingga sendiri udah tepar di atas kasur. Sementara Bagas masih ngejogrok di depan laptop, main PES. Danu datang dengan membawa nampan berisi tiga gelas susu hangat.
“Woi.. Ga?! Kalo mau tidur, ganti baju dulu napa?” Danu sewot karena temannya tidur dengan seragam latihan tadi yang masih menempel di badannya.
“Gua gak bawa baju ganti.” Celetuk Lingga sekenanya.
Bagas hanya bisa mengangkat bahu begitu sadar Danu menatapnya. Selang beberapa saat, Lingga nongol di tengah tengah mereka. Bajunya pun telah berganti. Seenaknya nyeruput segelas susu, langsung kembali ke atas kasur dengan tanpa ada rasa berdosa.
“Eh, kayaknya tuh baju gua kenal?” Kata Danu heran.
“Gua pinjem baju lo.” Sahut Lingga tanpa merubah sedikitpun posisi berbaringnya.
“Saba aja deh.” Ucap Bagas.
**
Jam tujuh pagi. Danu terbangun. “Wooiii…!! Bangun…!!” Danu mengguncang tubuh kedua temannya. “Udah jam tujuh, pertandingan 1 jam lagi.” Suara Danu terdengar di telinga Lingga dan Bagas. Begitu sadar. Mereka berebut ke kamar mandi.
Sementara di lapangan, sesuai jadwal pertandingan mulai sekitar 10 menit lagi. Tapi LIngga, Bagas dan Danu belum tiba. “Kemana sih tuh anak tiga?” Nalula pun dibuat resah. Meski akhirnya mereka tiba dengan napas yang masih kejar-kejaran. Soalnya ada sedikit insiden, mobil Danu yang mereka tumpangi ngambek di tengah perjalanan. Endingnya mereka harus berlari mengejar waktu menuju stadion.
“Cepat kalian pemanasan. Lari tiga putaran.” Perintah Nalula.
“Hah..!” Mereka hanya tercengang.
**
Pertandingan dimulai. Dan lagi-lagi Dipokar harus bentrok dengan Siliwangi FC yang menang atas Patriot FC Bekasi 3-0 dan melibas Benteng FC Tangerang 3-2. Meski tahun ini tanpa kehadiran sang kapten, Ilan.
“Mundur! Jangan terlalu mengandalkan jebakan offside. Bagas! Oper ke Lingga. Danu! Jaga Diaz.” Terdengan teriakan Nalula dari pinggir lapangan.
90 menit jalannya pertandingan telah berlalu. Dan gelar juarapun harus kembali ke tangan Siliwangi FC dengan skor akhir 1-0. Namun yang paling di tunggu-tunggu adalah pengumuman perekrutan timnas.
Para punggawa Dipokar FC menunggu kabar tersebut dari Nalula di ruang ganti. Nalula datang dengan membawa selembar kertas. Daftar pemain perekrutan timnas. Tidak ada satu pun nama dari Dipokar FC. Bisa di pastikan yang paling kecewa adalah Danu, Bagas dan terutama Lingga.
“Kalian gak boleh percaya dulu sama kertas itu. Karena hasil sebenarnya terpajang di luar.” Ucap Nalula dengan senyum penuh arti.
Lingga, Danu, Bagas. Seketika mereka berlari berhamburan keluar lapangan. Ternyata ada empat nama dari Dipokar. Dan tiga di antaranya adalah mereka.
Akhirnya mereka berhasil mewujudkan impian Ilan, lolos timnas. Meski tanpa gelar juara dan kehadiran Ilan di antara mereka.
Langganan:
Komentar (Atom)